Education

Dari Gambut ke Meja Makan, Bagaimana Karhutla Mengancam Keberagaman Pangan Kita

Siapa di sini yang baru bener-bener paham soal pentingnya ekosistem gambut setelah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan? Gambut yang keliatannya seperti lahan rawa-rawa itu ternyata jadi penopang suburnya tanah sekitar hingga jadi spons yang menjaga pasokan air. Kondisi yang beredar, api sangat sulit dipadamkan karena lahan gambut kering di lapisan bawah yang menjadi bara, terus terbakar karena sangat kering. Bagaimana bisa gambut bisa sekering itu?Apakah mungkin hanya karena faktor cuaca atau el nino yang sering dikambing hitamkan?

tentu enggak cuma karena faktor cuaca atau El Niño. El Niño memang bikin kemarau jadi lebih panjang dan menyengat, tapi dia cuma pemantik akhir. Penyebab utama kenapa gambut bisa sekering itu dan berubah jadi “bom waktu” adalah ulah tangan manusia sendiri melalui pengeringan masif (drainase) dan alih fungsi lahan.

Secara alami, lahan gambut itu seharusnya selalu basah dan tergenang air seperti spons raksasa. Namun, demi pembukaan lahan skala besar—seperti perkebunan monokultur atau pemukiman—dibuatlah kanal-kanal atau parit buatan untuk menyedot dan mengalirkan air keluar dari ekosistem gambut. Begitu airnya dikuras habis, struktur spons gambut yang tadinya lembap runtuh dan mengering total. Material organik padat karbon yang terakumulasi selama ribuan tahun di bawahnya pun berubah status: dari rahim yang menyuburkan tanah, menjadi tumpukan bahan bakar yang siap meledak.

Inilah kenapa ketika api memantik permukaan, kebakaran di lahan gambut yang sudah dikeringkan hampir mustahil dipadamkan dengan cepat. Apinya menjalar klandestin di bawah tanah (subsurface fire), membakar lapisan gambut dalam yang membara tanpa henti dan terus memuntahkan kabut asap beracun selama berminggu-minggu. Yang lebih menyedihkan, ketika bom waktu ini meledak, ekosistem hancur, keanekaragaman hayati lenyap, dan dampaknya merayap perlahan tapi pasti: mengancam pasokan dan keanekaragaman bahan pangan yang ada di meja makan kita.

Indonesia itu sebenarnya beruntung banget punya predikat sebagai pemilik lahan gambut tropis terbesar di dunia—luasnya nggak main-main, sekitar 13,4 sampai 14,9 juta hektar! Lahan gambut alami ini ibarat “spons raksasa” pelindung bumi yang bertugas menyerap air hujan, mencegah banjir saat kemarau, dan yang paling utama: menyimpan triliunan ton cadangan karbon agar udara yang kita hisap tetap bersih. Sayangnya, benteng hijau ini terus terancam rusak dan terbakar. Dan ketika lahan gambut kita terus terdegradasi, dampak buruknya bukan cuma merusak ekosistem hutan, tapi juga memicu krisis iklim yang makin tidak menentu.

Nah, dari perubahan iklim inilah dampaknya merayap sangat jauh, hingga tanpa kita sadari menembus dinding dapur dan bermuara tepat di atas meja makan kita. Cuaca ekstrem dan pola kemarau panjang akibat rusaknya lahan gambut bikin rantai pasokan pangan terganggu, memicu gagal panen, dan melambungkan harga bahan pokok harian. Jadi, isu karhutla ini bukan lagi cuma soal asap di luar pulau, tapi soal jaminan apa yang bakal tersisa di piring makan kita besok.

Hiii terima kasih sudah berkunjung. I'm totally happy and greatly appreciate if you kindly give me some advice and comments. For any enquiries, kindly send email to ria.iyha29@gmail.com . Enjoying reading :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *