Seniman Pangan Bekasi dan kebun pangan lokal
Education,  Food,  Lifestyle,  Travelling

Seniman Pangan Bekasi, Mengenal Pangan Lokal Lebih dari Sekedar Rasa

Ada pengalaman yang kadang tanpa sengaja membawa kita kembali mengingat masa kecil. Itu yang aku rasakan saat berkunjung ke Seniman Pangan Bekasi beberapa waktu lalu. Berjalan masuk ke kebunnya dan melihat berbagai tanaman yang tumbuh di sana, entah kenapa rasanya seperti menemukan kembali hal-hal yang dulu begitu dekat dengan keseharian, masa ketika main belum kenal gadget.

Ternyata ada hal-hal dari masa kecil yang baru terasa sangat istimewa setelah dewasa. Makan tebu langsung dari batangnya, mengumpulkan jali-jali untuk dijadikan gelang atau kalung dan makan buah yang tumbuh di sekitar rumah tanpa perlu tahu namanya. Dulu semua terasa seperti bagian biasa dari permainan anak-anak aja. Tapi berada di Seniman Pangan membuatku sadar, hal-hal sederhana itu ternyata juga menjadi bagian dari bagaimana kita mengenal alam dan pangan yang tumbuh di sekitar.

Sekarang, ketika hampir semua makanan begitu mudah kita temukan dalam bentuk siap konsumsi, rasanya hubungan kita dengan sumber pangan juga perlahan semakin jauh. Bahkan mungkin ada generasi yang mengenal singkong, kacang, atau buah tertentu dari bentuk akhirnya di piring, tapi belum pernah melihat seperti apa pohonnya, bagaimana ia tumbuh, apalagi mengenal cerita tentang dari mana pangan itu berasal.

Produk pangan lokal dari berbagai daerah Indonesia

Seniman Pangan, Bukan Sekadar Tempat untuk Makan

Seniman Pangan bukan hanya tempat untuk menikmati makanan atau cafe biasa. Tempat ini menjadi ruang belajar dan pengembangan pangan yang menghubungkan kebun, petani, budaya, kreativitas hingga kewirausahaan. Seniman pangan memberikan pelatihan dengan gastronomy experience, jadi petani dan masyarakat lokal dicoaching untuk mengenali, mengolah hingga sumber bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai lebih, mulai dari resep, keamanan pangan, branding, packaging sampai kesiapan memasuki pasar, salut banget sama kolaborasi Seniman Pangan.

Menariknya, tempat ini juga bisa dikunjungi masyarakat umum. Jadi kita tidak harus menjadi petani atau mengikuti pelatihan untuk bisa mengenal lebih dekat dunia pangan lokal. Di kawasan ini terdapat café dengan menu yang memanfaatkan bahan alami langsung dari kebun Seniman Pangan Bekasi, sekaligus pengalaman untuk mengenal perjalanan pangan dari kebun hingga akhirnya sampai ke meja.

Masuk ke Kebun, Mengenal Pangan dari Sumbernya

Salah satu bagian favoritku tentu saja ketika diajak masuk dan berkeliling kebun. Rasanya seperti menemukan sisi lain Bekasi yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. Ada beragam tanaman yang tumbuh dan dikembangkan di sini. Bahkan kopi pun ternyata bisa tumbuh di Bekasi, tanah yang terlihat kering dengan udara panas yang sangat dihapal warga kota lain.

Seniman Pangan sendiri memiliki area kebun seluas kurang lebih 3 hektar, meski saat ini belum seluruh lahannya ditanami karena keterbatasan sumber daya manusia untuk mengelolanya. Tapi saat mulai berkeliling, aku sudah cukup amazed melihat begitu beragamnya tanaman yang tumbuh di sana. Bukan sekadar tanaman yang biasa kita temui di sekitar rumah, beberapa di antaranya justru berasal dari hutan dan pelosok berbagai daerah di Indonesia. Rasanya seperti sedang melihat potongan kecil perjalanan pangan dari Aceh sampai Papua dalam satu kebun.

Hari itu kami ditemani Mamah Etih Suryatin, Partnership Director Seniman Pangan, yang sepanjang perjalanan nggak berhenti membagikan cerita di balik tanaman-tanaman tersebut. Beliau bercerita bagaimana selama puluhan tahun melakukan perjalanan dan mapping ke berbagai hutan hingga pelosok negeri untuk mengenali sumber pangan yang ada di sana. Jadi setiap kali berhenti di satu tanaman, ternyata ada cerita tentang daerah asalnya, masyarakat yang mengenalnya, hingga bagaimana tanaman tersebut akhirnya bisa dibawa, ditanam dan dikembangkan di kebun Seniman Pangan.

Mendengar cerita Mamah Etih sambil melihat langsung tanaman-tanaman itu rasanya bikin kagum sekaligus membuatku sadar bahwa apa yang kami lihat hari itu adalah hasil dari proses yang sangat panjang. Ada perjalanan masuk ke berbagai daerah, proses mengenali dan mempelajari sumber pangan, sampai usaha untuk membuat tanaman yang membawa cerita dari tempat asalnya itu tetap tumbuh dan dikenal. Jadi keliling kebun Seniman Pangan rasanya bukan sekadar melihat apa yang ditanam, tapi seperti diajak mengenal Indonesia lewat pangannya.

Berkeliling kebun Seniman Pangan Bekasi

Selain Mamah Etih, selama berkeliling kebun kami juga ditemani Kak Corazon atau Kak Cora, Food Technology & Education Manager Seniman Pangan Bekasi. Kalau Mamah Etih banyak bercerita tentang perjalanan dan asal-usul tanaman, Kak Cora melengkapinya dari sisi pengolahan pangan. Ia menjelaskan karakter beberapa tanaman yang kami temui sekaligus bagaimana sebuah bahan pangan bisa dikembangkan lebih jauh menjadi produk yang aman dan punya nilai jual.

Sesuai perannya di bidang food technology, Kak Cora memastikan bahan pangan yang akan diolah memenuhi standar yang diperlukan, mulai dari memahami karakter bahan, menentukan komposisi, hingga penggunaan bahan tambahan yang tepat dalam proses pengembangan produk. Jadi ternyata membuat produk dari pangan lokal nggak sesederhana menemukan bahan lalu mengolahnya. Ada proses untuk mencari formulasi yang pas agar rasa, tekstur, kualitas hingga keamanan produknya tetap terjaga. Aku sesekali menanyakan juga ke Kak Cora campuran gula dan teksturnya harus seperti apa saat membuat selai rosela, beliau sangat friendly dan ramah untuk menjawab banyak pertanyaan kami.

Pengalaman keliling kebun hari itu juga semakin seru karena ada Bapak petani yang sehari-hari merawat tanaman di Seniman Pangan Bekasi dan mengajak kami mencoba memanen langsung beberapa hasil kebun. Mulai dari memetik buah kopi yang masih menempel di pohonnya, memanen singkong, sampai mencoba menanam langsung pohon cabe yang sudah disiapkan. Di sini rasanya semua cerita tadi jadi lebih nyata, karena kami nggak cuma mendengar tentang pangan dari mana berasal dan bagaimana mengolahnya, tapi juga menyentuh, memanen, dan mencicipinya langsung dari sumbernya.

Mengolah Kemangi Jadi Sirup, Rosella Jadi Selai

Setelah melihat langsung sumber pangannya, perjalanan kami berlanjut ke proses pengolahan. Kali ini kami diajak mencoba membuat sirup dari kemangi dan selai dari rosella. Ternyata kemangi yang selama ini identik sebagai lalapan bisa punya kemungkinan lain ketika kita tahu cara mengolahnya. Begitu juga dengan rosella dan berbagai tanaman lokal lainnya yang mungkin selama ini terlihat sederhana.

Setelah memperhatikan prosesnya, ternyata nggak dibutuhkan banyak bahan tambahan untuk mengubah bahan-bahan tersebut menjadi produk yang biasa kita konsumsi di rumah. Dengan formulasi dan proses pengolahan yang tepat, kami juga dijelaskan bahwa produk tersebut bisa bertahan hingga beberapa bulan tanpa perlu menggunakan bahan pengawet. Menarik ya, karena dari bahan yang sederhana ternyata bisa menghasilkan produk yang tetap mengandalkan karakter alami dari bahan utamanya.

Mengolah rosella dan kemangi menjadi produk pangan lokal

Dari sini aku semakin paham salah satu hal yang dilakukan Seniman Pangan Bekasi. Bukan sekadar mengenalkan cara menanam atau memanen, tetapi juga membantu melihat potensi dari sebuah sumber pangan. Bagaimana bahan yang awalnya tumbuh di kebun bisa diolah dengan tepat, dikembangkan menjadi produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi, hingga nantinya siap dipasarkan. Prosesnya pun mencakup banyak hal, mulai dari teknik pengolahan, pengembangan produk dan formulasi, sampai branding dan pemasaran.

yang tumbuh tetap dijaga, yang mengolah ikut bertumbuh

Dari sinilah aku mulai memahami bahwa membicarakan pangan lokal sebenarnya tidak berhenti pada pertanyaan, “rasanya enak atau tidak?” Ketika bahan pangan lokal dikenali potensinya, ditanam, diolah dan kemudian memiliki nilai ekonomi, ada sebuah siklus yang bisa ikut bergerak, pemberdayaan masyarakat lokal, pangan yang berkelanjutan, pengetahuan yang terus diwariskan hingga dan ekonomi yang bertumbuh.

Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal atau Indigenous Peoples and Local Communities (IPLC) memiliki pengetahuan mengenai apa yang tumbuh di wilayah mereka, bagaimana memanfaatkannya, mengolahnya hingga menjadikannya bagian dari budaya makan sehari-hari. Ketika sebuah pangan perlahan menghilang dari keseharian kita, yang berisiko hilang bukan hanya bahannya. Cerita, cara mengolah, pengetahuan dan warisan budaya yang menyertainya juga bisa ikut terlupakan. Maka memilih dan memanfaatkan pangan yang berasal dari daerah setempat bisa menjadi salah satu kontribusi sederhana dari rumah.

Dari Sumber Pangan Menjadi Produk Bernilai

Hal lain yang menarik adalah melihat bagaimana sumber pangan dari berbagai wilayah Indonesia dapat berkembang menjadi produk berkualitas tanpa harus kehilangan identitas tempat asalnya. Ada garam dari Papua, berbagai selai dan produk olahan, hingga produk yang membawa visual serta cerita daerah asalnya. Buatku, produk-produk ini seperti menunjukkan bahwa pangan lokal tidak harus berhenti sebagai komoditas mentah.

Produk pangan lokal dari berbagai daerah Indonesia

Dengan pengetahuan, kreativitas dan akses pasar yang tepat, sesuatu yang awalnya tumbuh di suatu daerah bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus membawa cerita daerah tersebut kepada konsumen yang mungkin tinggal ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya.

Cerita menarik lainnya datang dari Ibu Johanna Hehakaja, Business Director Sekolah Seniman Pangan. Ada satu pesan yang cukup melekat buatku, yaitu bagaimana Seniman Pangan Bekasi ingin menunjukkan kepada masyarakat lokal dan masyarakat adat yang datang belajar ke sini bahwa memulai tidak harus selalu menunggu kondisi ideal. Apa yang tersedia di sekitar mereka justru bisa menjadi titik awal. Pangan lokal yang mungkin sudah jarang dimanfaatkan atau bahkan mulai dilupakan, ketika dikenali kembali dan dikembangkan dengan pengetahuan yang tepat, ternyata bisa memiliki potensi yang jauh lebih besar.

Salah satu contoh yang diceritakan adalah nipah dari Papua. Siapa sangka pelepah nipah yang sudah tua bisa menghasilkan rasa asin. Prosesnya pun cukup panjang, Bu Jo menjelaskan pelepah dikeringkan, dibakar hingga menjadi bubuk hitam yang secara alami sudah terasa asin, kemudian diekstraksi menjadi cairan dan kembali dikeringkan hingga menghasilkan produk akhir.

Menariknya, dari pohon yang sama juga bisa dikembangkan sumber pemanis. Namun produk asin berbahan nipah ini tidak serta merta dapat dipasarkan dengan sebutan “garam”, karena terdapat standar komposisi mineral tertentu yang harus dipenuhi untuk penggunaan istilah tersebut di Indonesia. Produk seperti ini kemudian dikembangkan bukan untuk menggantikan garam sebagai pengasin utama, tetapi lebih sebagai finishing atau sentuhan rasa pada makanan.

Dan ternyata ceritanya nggak berhenti pada nipah. Bu Johanna juga memperlihatkan bagaimana sumber pangan hutan dari masyarakat Moi di Sorong, Papua, maupun buah-buahan hutan dari Sumatera Selatan dapat digali potensinya dan dikembangkan menjadi produk seperti selai. Bahkan sumber rasa manis pun tidak selalu harus datang dari bahan yang selama ini familiar, bahan berpati seperti singkong dan berbagai umbi juga menyimpan kemungkinan untuk dikembangkan lebih jauh. Dari sini aku menangkap bahwa tujuan Seniman Pangan bukan mengejar sebanyak-banyaknya produk, melainkan bagaimana sebuah pangan lokal dapat diangkat kualitas dan kelasnya menjadi produk ikonik, tanpa melepaskan identitas, sumber alam, serta cerita masyarakat dari tempat pangan itu berasal.

Bertemu Jadi Satu di Meja Makan

Setelah seharian berkeliling kebun, memanen, mengolah dan mendengar begitu banyak cerita tentang pangan, tentu saja perjalanan hari itu berakhir di bagian yang paling menyenangkan yaitu meja makan.  Ada beragam hidangan berbahan pangan lokal yang kami cicipi. Sebelum memulai, Bu Jo mengajak kami mengenal satu per satu makanan yang sudah tersaji di meja. Bukan cuma menyebutkan nama dan asalnya, tapi juga menceritakan bagaimana masyarakat setempat biasa mengolah dan mengonsumsi pangan tersebut.

Sumber makanan pokok maupun bahan yang kita konsumsi sehari-hari sebenarnya sangat beragam dan nggak harus selalu bergantung pada satu jenis pangan. Ada cashew butter dari Flores yang dijadikan dressing salad, nasi subut dari Kalimantan yang merupakan perpaduan nasi, ubi ungu, dan jagung, campuran yang digunakan masyarakat sebagai alternatif ketika beras mahal. Ada juga ayam tangkap dan rujak khas Aceh, benar-benar menu yang disajikan sangat banyak dan beragam, terasa lagi wisata kuliner from Aceh to Papua.

Salah satu yang paling berkesan buatku adalah sate daun singkong dari Mollo, NTT. Ini pertama kalinya aku mencobanya dan jujur nggak expect rasanya bisa seenak itu. Aku yang biasanya nggak terlalu suka daun singkong malah jadi pengen makan lagi dan lagi. Begitu juga dengan nasi subut, perpaduan ubi ungu dan jagung membuat rasanya sedikit lebih manis dan gurih dibanding nasi yang biasa aku makan. Di titik itu aku sampai berpikir, kok bisa ya bahan-bahan yang kelihatannya sederhana diolah jadi seenak ini. Mungkin karena selama ini kita terbiasa melihat bahan pangan hanya dalam bentuk olahan yang itu-itu saja, padahal ketika dieksplorasi lebih jauh, kemungkinannya ternyata banyak banget.

Hidangan pangan lokal dari berbagai daerah Indonesia

Bahkan kerupuk yang disajikan dibuat tanpa tambahan pengawet dan pewarna, tetapi tetap enak untuk dinikmati bersama hidangan lainnya. Buatku makan siang hari itu akhirnya bukan sekadar waktunya mengisi perut, tetapi seperti melanjutkan perjalanan kami mengenal pangan lokal lewat rasa. Setelah sebelumnya melihat tanaman di kebun, memanennya, sampai belajar mengolahnya, sekarang kami bisa menikmati bagaimana berbagai sumber pangan lokal tersebut akhirnya bertemu jadi satu di meja makan.

Aku pulang bukan cuma dengan perut kenyang. Ada banyak cerita dan sudut pandang baru yang ikut terbawa pulang. Tentang pangan lokal yang ternyata menyimpan perjalanan panjang, tentang alam dan masyarakat yang menjaganya, sampai satu pemikiran sederhana bahwa apa yang kita pilih untuk tersaji di piring hari ini, akan menentukan pangan apa yang masih bisa dinikmati generasi berikutnya. Dampak dari pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan hari ini.

Terima kasih Eco Blogger Squad dan Seniman Pangan Bekasi untuk satu hari yang rasanya benar-benar nggak terasa. Seharian main di kebun, panen, belajar, mendengar begitu banyak cerita, mencoba mengolah pangan sampai makan bersama, semuanya terasa menyenangkan sekaligus insightful. Rasanya seperti sedang jalan-jalan dan menikmati pengalaman baru, tapi tanpa sadar pulang membawa banyak pengetahuan. Sungguh satu hari yang aku nikmati dari awal sampai akhir. Semoga setelah ini kita bisa semakin mengenal apa yang tumbuh di negeri sendiri, karena ternyata pangan lokal memang lebih dari sekadar rasa.

Hiii terima kasih sudah berkunjung. I'm totally happy and greatly appreciate if you kindly give me some advice and comments. For any enquiries, kindly send email to ria.iyha29@gmail.com . Enjoying reading :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *