Tahun ini jadi tahun keduaku datang ke IMAC Film Festival, acara yang diselenggarakan oleh ILUNI UI dengan dukungan dari Suka Sinema dan banyak media partner yang ikut meramaikan. Meskipun masih diadakan di tempat yang sama seperti tahun lalu, yakni di Taman Ismail Marzuki, IMAC tahun 2026 ini hadir lebih special.
Pertama, karya film yang dipamerkan di IMAC 2026 ini tidak hanya datang dari sineas dalam negeri, tapi juga dari berbagai negara dengan latar budaya dan gaya bercerita yang berbeda, seperti China, India, Afrika hingga Brasil. IMAC 2026 sudah mulai mendunia, Go International.
Jumlah karya yang masuk juga tidak sedikit. Ada ratusan film pendek dari 18 Negara yang ikut berpartisipasi sebelum akhirnya dikurasi menjadi 40 film yang berhasil masuk dalam daftar Official Selection IMAC 2026. 40 film tadi akhirnya dibagi ke dalam empat kategori, yaitu National Student Category, Best National Film, Documentary, dan Best IMAC Film Category.
IMAC 2026 digelar dari tanggal 16 sampai 18 April 2026 dan diakhiri Awarding Day di tanggal 19 April 2026, kebetulan aku hadir di hari terakhir IMAC berlangsung. Aku menyaksikan beragam film keren yang masuk nominasi bahkan menjadi film-film terbaik pilihan juri. Ada salah satu karya film yang dibuat oleh pelajar berjudul Ngamplop yang menjadi pemenang kategori the Best IMAC Film Camp, aku terkesima dengan alur cerita yang sulit ditebak, angle yang unik dan pastinya judul film yang membuat penasaran dari awal.
Saat awarding day kemarin, MC juga memperkenalkan keterlibatan para juri International yang ikut melakukan penilaian terhadap film-film yang dikompetisikan. Kehadiran juri dari berbagai latar belakang industri film membuat festival ini terasa punya sudut pandang yang lebih luas, karena setiap karya tidak hanya dinilai dari perspektif lokal, tapi juga dari standar dan pengalaman yang lebih global.
Nggak cuma karya film yang datang dari mancanegara yang bikin IMAC tahun ini terasa berbeda dari tahun lalu, tapi juga tema yang diusung, yaitu Resilience. Tema ini terasa cukup dekat dengan dunia perfilman, yang sering kali penuh tantangan dan proses panjang sebelum sebuah karya akhirnya bisa kita tonton. Resilience tentang kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari berbagai situasi, sesuatu yang relevan juga untuk para film maker yang berusaha mewujudkan ide atau cerita mereka.
Ada lagi yang menarik dari IMAC 2026, satu hal yang langsung terasa begitu masuk area festival tahun ini adalah nuansa visualnya yang terlihat lebih playful dibanding tahun lalu. Warna kuning cerah dengan sentuhan doodle art yang khas, gambar-gambar sederhana tapi ekspresif yang mencuri perhatian saat pertama kali aku lihat. Elemen visualnya tuh bikin suasana IMAC tahun ini terasa lebih ceria, meskipun untuk beberapa hal perlu dikembangkan lagi.
Perayaan puncak untuk pengumuman film-film terbaik yang digelar di Ruang Pemutaran Asrul Sani menghadirkan para juri, dosen film hingga sineas muda yang datang dengan antusias. Kursi-kursi terisi hampir tanpa celah, dan suasana cukup meriah di awal dengan hadirnya tarian khas bernuansa merah. Film-film terbaik yang tampil di IMAC, rasanya jadi bukti nyata bahwa semakin banyak generasi muda yang punya bakat dan keberanian untuk menyampaikan ide mereka lewat medium film. Dari cerita yang diangkat, terlihat bagaimana para sineas muda mampu mengolah pengalaman pribadi, isu sosial, hingga hal-hal sederhana di sekitar mereka menjadi karya yang punya makna dan pesan kuat.
Cara mereka menyusun visual, membangun emosi, sampai menyelipkan nilai-nilai tertentu dalam cerita menunjukkan bahwa kreativitas anak muda di dunia perfilman terus berkembang. Menonton karya-karya ini juga memberi kesan bahwa film bukan lagi sekadar hiburan, tapi sudah menjadi ruang ekspresi yang serius bagi generasi muda untuk berbicara, berbagi sudut pandang, dan menyampaikan sesuatu yang ingin mereka suarakan kepada penonton.
Nah, buat kamu yang baca tulisan ini, mungkin nggak ada salahnya mulai dulu aja mengembangkan minat dan potensi yang kamu punya di dunia film, sekecil apa pun langkahnya. Entah itu mulai dari nulis ide cerita, belajar ngambil gambar, atau sekadar bikin video pendek dari hal-hal sederhana di sekitar, semua bisa jadi awal dari perjalanan panjang sebagai seorang storyteller. Siapa tahu, dari proses kecil yang kamu mulai hari ini, suatu saat nanti karya film buatanmu bisa ikut tampil di layar IMAC tahun depan, ditonton banyak orang, dan membawa ceritamu bertemu dengan penonton yang lebih luas.
Hiii terima kasih sudah berkunjung.
I'm totally happy and greatly appreciate if you kindly give me some advice and comments.
For any enquiries, kindly send email to ria.iyha29@gmail.com . Enjoying reading :))