Parenting

Melahirkan Normal Setelah Caesar? Sangat Mungkin Kok

Sharing this:

Proses persalinan Arsyila menjadi pelajaran bagi kami bahwa tidak ada yg tidak mungkin bagi Allah. Keyakinan saya pada saat itu, doa yang tak putus serta komunikasi yang intens sama debay, membuat saya bisa merasakan proses melahirkan normal setelah sebelumnya caesar dan dugaan pinggul yang kecil. Hal yg sebelumnya banyak orang meragukan, Allah buktikan dengan kuasanya. Ini jadi semacam pembuktian ke mereka yg bilang ‘ tidak mungkin’, “Inama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun“.

Melahirkan normal atau caesar bagi saya hanya sebuah proses yang tidak menjadikan label ibu hebat atau label lainnya yang sering dibanding-bandingkan, karena saya percaya hakikatnya bayi memilih jalan lahirnya sendiri. Ibu tetaplah seorang ibu..apapun proses persalinan yang dilaluinya. Please buibu stop judgemental, stop saling memberi ‘label’ we should support each others #curhatanpernahCaesar.

Tepat usia Arfa 3 tahun, saya dan suami berencana memiliki anak kedua. KB alami yang kami jalani selama 3 tahun harus di stop dulu. Besar harapan anak kedua kami seorang perempuan. Ikhtiar pun dilakukan dengan sangat detail, mulai dari install kalender untuk melihat masa ovulasi, mengatur jarak dan posisi saat ‘berhubungan’ sampai doa kami yang tak berhenti kepada sang pemilik kuasa. Saat itu bertepatan pada bulan Ramadhan, saya berdoa semoga saya hamil agar bisa full puasa dan bisa solat Ied. Alhamdulillah wa syukurillah..kurang lebih 1 atau 2 minggu setelah prosesnya, saya mual dan muntah. Cek demi cek ternyata positif hamil. Syukur tiada henti karena Allah langsung mengabulkan doa kami.

Proses Pemeriksaan

Pemeriksaan anak kedua kali ini, kami memilih RS Graha Kedoya Jakarta Barat. Pilihan ini kami buat based on pengalaman anak pertama. Saat anak pertama, proses check up kami lakukan di RS Harapan kita, selain lokasinya lebih jauh, proses antri di RS Harapan kita terlalu lama. So kali ini kami memilih RS Graha Kedoya. Dokter yang menjadi partner kami pertama kali adalah Dr. Forry, ia menjadi dokter yang paling banyak reviewnya but personally saya merasa lebih nyaman jika pemeriksaan dilakukan oleh Female Dokter, akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada ke Dr. Riyani Marlisa Limoa.

Proses kehamilan saya kali ini tidak banyak keluhan, mual dan muntah hanya beberapa minggu. Cadebay bisa dibilang sangat kuat karena saat 11 week sudah saya ajak travelling ke Spore selama 5 hari. Berjalan kaki puluhan km, naik turun tangga dan pola makan yang tidak teratur (termasuk sering makan mie instan), alhamdulillah hal itu tidak membuat saya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah Masyaallah

Hamil kedua ini saya lebih sering berpergian, hingga usia 9 bulan pun masih ke mall naik motor berdua dengan anak pertama saya ✌. Mungkin cadebay ngerti kondisi emaknya yg rentan bosan kalo di rumah terus hehehe.

Tentang Dr. Riyani Marlisa Limoa

Menentukan Obgyn yang ‘cocok’ bukan perkara mudah. Percaya gak percaya ini tuh kayak jodoh, cocok – nyaman – ngblend di saya belum tentu bisa sama rasanya ke orang lain.

Bertemu dengan beliau seperti rezeki yang Allah kasih, tidak hanya merasa nyaman tapi beliau seolah bisa mentransfer energi positif  dan memotivasi. Rasa syukur tak henti karena beliau mempermudah proses melahirkan normal yang bagi sebagian orang menganggap sulit.

Dalam melakukan pemeriksaan, Dokter Riyani sangat sabar dan detail. Memeriksa tiap organ penting dengan seksama. Hal yang paling menarik, beliau selalu ‘santai’ dalam menjawab berbagai keluhan dan pertanyaan saya. Gak ada yang perlu dikhawatirkan terlalu banyak jika tidak ada indikasi lain, tidak ada keluhan yang gak normal. Hamil adalah proses yang menyenangkan. Stay Positif

Setiap USG beliau juga sabar menunggu gerakan janin untuk memastikan perkembangan organ dan lainnya. Pertanyaan pertama yang saya ajukan ke beliau adalah ”Dok saya bisa lahiran normal kan?”, KITA coba ya bu. Simple answer tapi memberikan keyakinan kuat.

Jarak melahirkan normal setelah caesar sebaiknya sudah di atas 3 tahun, tidak ada riwayat penyakit atau hal – hal yang bisa membahayakan si ibu. Selain itu proses kontraksi nanti TIDAK disarankan untuk induksi atau pemberian obat penahan rasa sakit. Kontraksi harus berjalan alami dan senormal mungkin.

Terima kasih ya Dok untuk kesabaran dan semua bantuannya, mungkin kalo bukan beliau, sejak awal saya sudah di rekomendasikan untuk SC saja. Ada loh moms Dokter yang dari awal ngasih sugest untuk SC saat tau anak pertama SC. Mungkin kalo bukan beliau Arsyila udah di vakum ya, karena stuck setengah jam saat ketuban sudah dipecahkan. Nah ini dia prosesnya….

Proses Persalinan

Menjelang HPL (HPL 8 Maret), saya mulai gelisah karena tanda-tanda kontraksi belum ada. Segala treatment untuk memancing kontraksi sudah saya lakukan. Saya dibuat galau karena setiap malam saya hanya merasakan kontraksi palsu, hingga membuat saya kesulitan tidur di malam hari. Dokter Riyani mengatakan kalau kita hanya dapat menunggu 1 minggu saja setelah HPL, lebih dari itu sangat beresiko untuk normal. Deng….deng…sugestipun makin banyak datang dari beberapa orang jika saya tidak mungkin bisa normal. Mereka menyarankan untuk langsung SC saja ditambah pinggul saya yang katanya kecil. Namun suami tetap support saya untuk menunggu kontraksi, Allah lah yang punya kuasa dan kehendak, hal itu yang saya yakini dalam hati ketika mendengar sugesti mereka. Saya harus yakin ‘bisa’ normal.

8 Maret 2017, tepat hari ini HPLnya. Sejak shubuh perut saya kencang setiap 10 menit namun hilang, akhhhh jangan-jangan PHP lagi nih, cuma kontraksi palsu pikir saya. Sepanjang hari saya merasakan kontraksinya semakin lama semakin terasa, sudah sulit tidur. Sore hari rasanya semakin sakit, semakin intens sekitar setiap 5 menit. Akhirnya saya tlp suami untuk cepat pulang. Sesampainya di rumah saya langsung ajak suami ke RS. Cek demi cek ternyata sudah pembukaan 3 dan harus dirawat inap. Berhubung suami dan anak tidak diijinkan berada di ruangan observasi, akhirnya saya menyuruh mereka pulang. Kasian juga jika Arfa berada di RS.

Sekitar jam 8 Dokter Riyani datang untuk melakukan pemeriksaan, masih pembukaan 3 namun disertai gumpalan flek yg terus keluar, saya mulai deg-deg an karena untuk pertama kalinya merasakan kontraksi. Dari jam 7 hingga jam 9 malam kontraksinya makin specta, saya mencari posisi ter-nyaman mungkin untuk mengurangi rasa sakitnya, dari mulai tidur menyamping, telentang, berjalan hingga sujud rasa sakitnya tetap luar biasa. Menahan rasa sakit sendiri di kamar observasi tanpa keluarga membuat saya hanya bisa menangis dan terus berdoa. Ya Allah gini toh rasanya kontraksi. Mungkin saat itulah yang membuat tenaga saya habis karena terus menangis.

Tiap berapa menit saya minta suster untuk mengecek sudah bukaan berapa, hingga akhirnya pukul 10 malam saya sudah berada di pembukaan 7. Haaaahh…baru 7 sus? Masya allah saya kira sudah hampir lengkap. Riwayat SC membuat kontraksi harus berjalan senormal mungkin, tanpa obat penahan rasa sakit ataupun induksi. Akhirnya saya tlp suami untuk menemani saya. Ternyata kedatangan suami sangat membantu saya secara psikis, saya tidak lagi menangis ketika kontraksi datang, tapi saya ‘bejek’ tangannya hahahahha.

Menuju pembukaan 8 rasanya makin tak tertahankan, keinginan menyerah pun muncul, namun suami terus memotivasi saya untuk tetap kuat. Suster di ruangan juga membantu memotivasi ‘’ini yang ibu inginkan dari awal untuk normal…ayooo bu sedikit lagi perjuangannya’’. Huaaa mendengar support mereka membuat saya bersemangat kembali, tekad saya muncul kembali. 4 gelas teh manis sudah habis seiring pembukaan yang hampir lengkap.

Ternyata pada pembukaan terakhir, muncul rasa ingin mengedan, rasanya ingin pup yang tidak bisa ditahan. Tapi harus saya tahan karena dokter belum datang. Kasian juga dokter Riyani baru visit saya pukul 8 malam dan sekarang harus ke RS lagi (saat itu menjelang jam 12 mlm).

Sabar, berdzikir tanpa henti, dan pasrah, hanya itu yang bisa saya lakukan. Sudah gak ada jeda, kontraksinya terus-terusan diikuti rasa ingin mengedan. Bayangkan ada sesuatu yang mendorong ingin keluar tapi harus di tahan.

Kamis, 9 maret 2019 tepatnya jam 1 dini hari, Dokter Riyani pun datang, dengan mata yang terlihat sekali baru bangun tidur. Maaf mengganggu tidurnya dok 😀

Saat dokter datang, akhirnya saya diberikan ijin untuk mengedan, yess! Tapi ternyata tidak membantu cadebay keluar, akhirnya ketuban saya dipecahkan, blusssss…. Akhirnya dede keluar pikir saya, rasanya plong gitu pas ketuban dipecahkan.

Tapi ternyata tidak saudara-saudara….cadebay masih didalam dan kontraksi jadi tidak intens. Lumayan lama menunggu kontraksi datang. Disinilah Dokter Riyani sangat berperan. Tidak apa-apa bu kita tunggu ya, kalau kontraksi datang ibu ambil nafas panjang dan ngeden sekuat-kuatnya ya. Berkali-kali saya ngeden tapi gagal, sampai saya sangat kelelahan and say ‘ udah dok..vakum aja’’.

Dokter Riyani menguatkan ‘’ayo bu sedikit lagi…ini kepala nya sudah kelihatan’’ (besoknya suami bilang, saat dokter ngomong gitu padahal kepala bayi tidak kelihatan masih jauh malahan) Tapi dengan kata-kata positif Dokter Riyani itu lah yang membuat saya terus berusaha lagi. Melihat saya yang kehabisan tenaga, akhirnya semua suster dikerahkan untuk mendorong dari perut plus suami yang terus memegang saya (Kenapa gak dari tadi ya hahaha).

Tepat pukul 2 dini hari Maiza Arsyila Zayana keluar, tumpah air mata dan hilang semua rasa sakit. Disitu rasanya campur aduk…rasa terbesar ingin berterima kasih sama ibu yang sudah terlebih dahulu merasakan sakitnya melahirkan, yang sudah berjuang melahirkan saya. Ya Allah kurang lebih 22 jam saya merasakan kontraksi, rasanya luar biasa.

Alhamdulillah Allah pemilik segala kuasa, Terima kasih Suamiku..kebayang kalo ga ada dia mungkin proses ini makin sulit.

Maiza Arsyila Zayana
9 Maret 2017
RS Graha Kedoya, Lahir pukul 02:15 dengan berat 3.1kg dan panjang 49cm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares